Senin, 07 Maret 2011

Askep Ikterus

BAB I
PENDAHULUAN

Ikterus merupakan suatu gejala yang sering ditemukan pada Bayi Baru Lahir (BBL). Menurut beberapa penulis kejadian ikterus pada BBL berkisar 50 % pada bayi cukup bulan dan 75 % pada bayi kurang bulan.
Perawatan Ikterus berbeda diantara negara tertentu, tempat pelayanan tertentu dan waktu tertentu. Hal ini disebabkan adanya perbedaan pengelolaan pada BBL, seperti ; pemberian makanan dini, kondisi ruang perawatan, penggunaan beberapa propilaksis (misal; luminal) pada ibu dan bayi, fototherapi dan transfusi pengganti.
Asuhan keperawatan pada klien selama post partum yang relatif singkat, sehingga klien dan keluarga harus dibekali pengetahuan, ketrampilan dan informasi tempat rujukan, cara merawat bayi dan dirinya sendiri selama di rumah sakit dan perawatan di rumah.
Perawat sebagai salah satu anggota tim kesehatan mempunyai peranan dalam memberikan asuhan keperawatan secara paripurna. Untuk itu dalam penulisan makalah ini mempunyai maksud :
1. Agar perawat memiliki intelektual dan mampu menguasai ketrampilan dan tehnik terutama yang berkaitan dengan perawatan klien dan keluarga dengan bayi Ikterus (Hiperilirubinemia),
2. Agar Perawat mampu mempersiapkan klien dan keluarga ikut serta dalam proses perawatan selama di Rumah Sakit dan perawatan lanjutan di rumah.
Adapun dalam pembahasannya akan menguraikan bagaimana memberikan Asuhan Keperawatan pada klien dengan bayi Hyperbilirubinemia yang mendapat Fototherapi.
Dalam penulisan makalah ini kami menggunakan metode Studi Kepustakaan, wawancara, Partisipasi Aktif dalam pemberian Asuhan Keperawatan.

BAB II
TINJAUAN KEPUSTAKAAN

A. Batasan-Batasan
1. Ikterus Fisiologis
Ikterus pada neonatus tidak selamanya patologis. Ikterus fisiologis adalah Ikterus yang memiliki karakteristik sebagai berikut (Hanifa, 1987):
• Timbul pada hari kedua-ketiga
• Kadar Biluirubin Indirek setelah 2 x 24 jam tidak melewati 15 mg% pada neonatus cukup bulan dan 10 mg % pada kurang bulan.
• Kecepatan peningkatan kadar Bilirubin tak melebihi 5 mg % per hari
• Kadar Bilirubin direk kurang dari 1 mg %
• Ikterus hilang pada 10 hari pertama
• Tidak terbukti mempunyai hubungan dengan keadan patologis tertentu

2. Ikterus Patologis/Hiperbilirubinemia
Adalah suatu keadaan dimana kadar Bilirubin dalam darah mencapai suatu nilai yang mempunyai potensi untuk menimbulkan Kern Ikterus bila tidak ditanggulangi dengan baik, atau mempunyai hubungan dengan keadaan yang patologis. Brown menetapkan Hiperbilirubinemia bila kadar Bilirubin mencapai 12 mg% pada cukup bulan, dan 15 mg % pada bayi kurang bulan. Utelly menetapkan 10 mg% dan 15 mg%.

3. Kern Ikterus
Adalah suatu kerusakan otak akibat perlengketan Bilirubin Indirek pada otak terutama pada Korpus Striatum, Talamus, Nukleus Subtalamus, Hipokampus, Nukleus merah , dan Nukleus pada dasar Ventrikulus IV.

B. Jenis-jenis Ikterus Menurut Waktu Terjadinya
1. Ikterus yang timbul pada 24 jam pertama
• Ikterus yang terjadi pada 24 jam pertama sebagian besar disebabkan oleh :
• Inkompatibilitas darah Rh,ABO, atau golongan lain
• Infeksiintra uterine
• Kadang-kadang karena defisiensi enzim G-6-PD
2. Ikterus yang timbul 24-72 jam sesudah lahir
• Biasanya ikterus fisiologis
• Masih ada kemungkinan inkompatibilitas darah Rh, ABO atau golongan lain
• Defisiensi enzim G-6-PD atau enzim eritrosit lain juga masih mungkin.
• Policitemia
• Hemolisis perdarahan tertutup *(perdarahan subaponerosis,perdarahan hepar, sub capsula dll)
3. Iktersua yang timbul sesudah 72 jam pertama sampai akhir minggu pertama
• Sepsis
• Dehidrasi dan asidosis Defisiensi G-6-PD
• Pegaruh obat-obatan
• Sindroma Criggler-Najjar , sindroma Gilbert
4. Ikterus yang timbul pada akhir minggu pertama dan selanjutnya
• Ikterus obtruktive
• Hipotiroidisme
• Breast milk jaundice
• Infeksi
• Hepatitis neonatal
• Galaktosemia

C. Metabolisme Bilirubin
Segera setelah lahir bayi harus mengkonjugasi Bilirubin (merubah Bilirubin yang larut dalam lemak menjadi Bilirubin yang mudah larut dalam air) di dalam hati. Frekuensi dan jumlah konjugasi tergantung dari besarnya hemolisis dan kematangan hati, serta jumlah tempat ikatan Albumin (Albumin binding site).
Pada bayi yang normal dan sehat serta cukup bulan, hatinya sudah matang dan menghasilkan Enzim Glukoronil Transferase yang memadai sehingga serum Bilirubin tidak mencapai tingkat patologis.

Diagram Metabolisme Bilirubin


ERITROSIT



HEMOGLOBIN



HEM

GLOBIN

BESI/FE
BILIRUBIN INDIREK
( tidak larut dalal air )

Terjadi pada
Limpha, Makofag


BILIRUBIN BERIKATAN DENGAN ALBUMIN

Terjadi dalam
plasma darah

MELALUI HATI



BILIRUBIN BERIKATAN DENGAN GLUKORONAT/ GULA RESIDU BILIRUBIN DIREK
( larut dalam air )
Hati


BILIRUBIN DIREK DIEKSRESI KE KANDUNG EMPEDU




Melalui
Duktus Billiaris

KANDUNG EMPEDU KE DEUDENUM


BILIRUBIN DIREK DI EKSKRESI MELALUI URINE & FECES Sumber : Dona L. Wong ; Nursing Care of Infants and Children


D. Patofisiologi Hiperbilirubinemia

Peningkatan kadar Bilirubin tubuh dapat terjadi pada beberapa keadaan . Kejadian yang sering ditemukan adalah apabila terdapat penambahan beban Bilirubin pada sel Hepar yang berlebihan. Hal ini dapat ditemukan bila terdapat peningkatan penghancuran Eritrosit, Polisitemia.
Gangguan pemecahan Bilirubin plasma juga dapat menimbulkan peningkatan kadar Bilirubin tubuh. Hal ini dapat terjadi apabila kadar protein Y dan Z berkurang, atau pada bayi Hipoksia, Asidosis. Keadaan lain yang memperlihatkan peningkatan kadar Bilirubin adalah apabila ditemukan gangguan konjugasi Hepar atau neonatus yang mengalami gangguan ekskresi misalnya sumbatan saluran empedu.
Pada derajat tertentu Bilirubin ini akan bersifat toksik dan merusak jaringan tubuh. Toksisitas terutama ditemukan pada Bilirubin Indirek yang bersifat sukar larut dalam air tapi mudah larut dalam lemak. sifat ini memungkinkan terjadinya efek patologis pada sel otak apabila Bilirubin tadi dapat menembus sawar darah otak. Kelainan yang terjadi pada otak disebut Kernikterus. Pada umumnya dianggap bahwa kelainan pada saraf pusat tersebut mungkin akan timbul apabila kadar Bilirubin Indirek lebih dari 20 mg/dl.
Mudah tidaknya kadar Bilirubin melewati sawar darah otak ternyata tidak hanya tergantung pada keadaan neonatus. Bilirubin Indirek akan mudah melalui sawar darah otak apabila bayi terdapat keadaan Berat Badan Lahir Rendah , Hipoksia, dan Hipoglikemia ( AH, Markum,1991).

E. Etiologi
1. Peningkatan produksi :
• Hemolisis, misal pada Inkompatibilitas yang terjadi bila terdapat ketidaksesuaian golongan darah ibu dan anak pada penggolongan Rhesus dan ABO.
• Pendarahan tertutup misalnya pada trauma kelahiran.
• Ikatan Bilirubin dengan protein terganggu seperti gangguan metabolik yang terdapat pada bayi Hipoksia atau Asidosis .
• Defisiensi G6PD/ Glukosa 6 Phospat Dehidrogenase.
• Ikterus ASI yang disebabkan oleh dikeluarkannya pregnan 3 (alfa), 20 (beta) , diol (steroid).
• Kurangnya Enzim Glukoronil Transeferase , sehingga kadar Bilirubin Indirek meningkat misalnya pada berat lahir rendah.
• Kelainan kongenital (Rotor Sindrome) dan Dubin Hiperbilirubinemia.
2. Gangguan transportasi akibat penurunan kapasitas pengangkutan misalnya pada Hipoalbuminemia atau karena pengaruh obat-obat tertentu misalnya Sulfadiasine.
3. Gangguan fungsi Hati yang disebabkan oleh beberapa mikroorganisme atau toksion yang dapat langsung merusak sel hati dan darah merah seperti Infeksi , Toksoplasmosis, Siphilis.
4. Gangguan ekskresi yang terjadi intra atau ekstra Hepatik.
Peningkatan sirkulasi Enterohepatik misalnya pada Ileus Obstruktif

F. Penata Laksanaan Medis
Berdasarkan pada penyebabnya, maka manejemen bayi dengan Hiperbilirubinemia diarahkan untuk mencegah anemia dan membatasi efek dari Hiperbilirubinemia. Pengobatan mempunyai tujuan :
1. Menghilangkan Anemia
2. Menghilangkan Antibodi Maternal dan Eritrosit Tersensitisasi
3. Meningkatkan Badan Serum Albumin
4. Menurunkan Serum Bilirubin
Metode therapi pada Hiperbilirubinemia meliputi : Fototerapi, Transfusi Pengganti, Infus Albumin dan Therapi Obat.

Fototherapi
Fototherapi dapat digunakan sendiri atau dikombinasi dengan Transfusi Pengganti untuk menurunkan Bilirubin. Memaparkan neonatus pada cahaya dengan intensitas yang tinggi ( a boun of fluorencent light bulbs or bulbs in the blue-light spectrum) akan menurunkan Bilirubin dalam kulit. Fototherapi menurunkan kadar Bilirubin dengan cara memfasilitasi eksresi Biliar Bilirubin tak terkonjugasi. Hal ini terjadi jika cahaya yang diabsorsi jaringan mengubah Bilirubin tak terkonjugasi menjadi dua isomer yang disebut Fotobilirubin. Fotobilirubin bergerak dari jaringan ke pembuluh darah melalui mekanisme difusi. Di dalam darah Fotobilirubin berikatan dengan Albumin dan dikirim ke Hati. Fotobilirubin kemudian bergerak ke Empedu dan diekskresi ke dalam Deodenum untuk dibuang bersama feses tanpa proses konjugasi oleh Hati (Avery dan Taeusch 1984). Hasil Fotodegradasi terbentuk ketika sinar mengoksidasi Bilirubin dapat dikeluarkan melalui urine.
Fototherapi mempunyai peranan dalam pencegahan peningkatan kadar Bilirubin, tetapi tidak dapat mengubah penyebab Kekuningan dan Hemolisis dapat menyebabkan Anemia.
Secara umum Fototherapi harus diberikan pada kadar Bilirubin Indirek 4 -5 mg / dl. Neonatus yang sakit dengan berat badan kurang dari 1000 gram harus di Fototherapi dengan konsentrasi Bilirubun 5 mg / dl. Beberapa ilmuan mengarahkan untuk memberikan Fototherapi Propilaksis pada 24 jam pertama pada Bayi Resiko Tinggi dan Berat Badan Lahir Rendah.

Tranfusi Pengganti
Transfusi Pengganti atau Imediat diindikasikan adanya faktor-faktor :
1. Titer anti Rh lebih dari 1 : 16 pada ibu.
2. Penyakit Hemolisis berat pada bayi baru lahir.
3. Penyakit Hemolisis pada bayi saat lahir perdarahan atau 24 jam pertama.
4. Tes Coombs Positif
5. Kadar Bilirubin Direk lebih besar 3,5 mg / dl pada minggu pertama.
6. Serum Bilirubin Indirek lebih dari 20 mg / dl pada 48 jam pertama.
7. Hemoglobin kurang dari 12 gr / dl.
8. Bayi dengan Hidrops saat lahir.
9. Bayi pada resiko terjadi Kern Ikterus.

Transfusi Pengganti digunakan untuk :
1. Mengatasi Anemia sel darah merah yang tidak Suseptible (rentan) terhadap sel darah merah terhadap Antibodi Maternal.
2. Menghilangkan sel darah merah untuk yang Tersensitisasi (kepekaan)
3. Menghilangkan Serum Bilirubin
4. Meningkatkan Albumin bebas Bilirubin dan meningkatkan keterikatan dengan Bilirubin

Pada Rh Inkomptabiliti diperlukan transfusi darah golongan O segera (kurang dari 2 hari), Rh negatif whole blood. Darah yang dipilih tidak mengandung antigen A dan antigen B yang pendek. setiap 4 - 8 jam kadar Bilirubin harus dicek. Hemoglobin harus diperiksa setiap hari sampai stabil.


Therapi Obat
Phenobarbital dapat menstimulasi hati untuk menghasilkan enzim yang meningkatkan konjugasi Bilirubin dan mengekresinya. Obat ini efektif baik diberikan pada ibu hamil untuk beberapa hari sampai beberapa minggu sebelum melahirkan. Penggunaan penobarbital pada post natal masih menjadi pertentangan karena efek sampingnya (letargi).
Colistrisin dapat mengurangi Bilirubin dengan mengeluarkannya lewat urine sehingga menurunkan siklus Enterohepatika.

G. Asuhan Keperawatan .
Untuk memberikan keperawatan yang paripurna digunakan proses keperawatan yang meliputi Pengkajian, Perencanaan, Pelaksanaan dan Evaluasi.
Asuhan keperawatan neonatus dengan hiperbilirubinemia secara umum bertujuan untuk :
1. Meningkatkan efektifitas phototherapi
2. Meningkatkan efektifitas tranfusi pengganti
3. Memberikan pendidikan kesehatan dan dukungan emosional
(Sally B.Olds,1983)

Pengkajian
1. Riwayat orang tua :
Ketidakseimbangan golongan darah ibu dan anak seperti Rh, ABO, Polisitemia, Infeksi, Hematoma, Obstruksi Pencernaan dan ASI.
2. Pemeriksaan Fisik :
Kuning, Pallor Konvulsi, Letargi, Hipotonik, menangis melengking, refleks menyusui yang lemah, Iritabilitas.
3. Pengkajian Psikososial :
Dampak sakit anak pada hubungan dengan orang tua, apakah orang tua merasa bersalah, masalah Bonding, perpisahan dengan anak.
4. Pengetahuan Keluarga meliputi :
Penyebab penyakit dan pengobatan, perawatan lebih lanjut, apakah mengenal keluarga lain yang memiliki yang sama, tingkat pendidikan, kemampuan mempelajari Hiperbilirubinemia (Cindy Smith Greenberg. 1988)

2. Diagnosa, Tujuan , dan Intervensi
Berdasarkan pengkajian di atas dapat diidentifikasikan masalah yang memberi gambaran keadaan kesehatan klien dan memungkinkan menyusun perencanaan asuhan keperawatan. Masalah yang diidentifikasi ditetapkan sebagai diagnosa keperawatan melalui analisa dan interpretasi data yang diperoleh.
1. Kurangnya volume cairan sehubungan dengan tidak adekuatnya intake cairan, fototherapi dan diare.
Tujuan : Cairan tubuh neonatus adekuat.
Kriteria :
• Turgor kulit baik.
• Mukosa lembab.
• Mata tidak cekung
• Ubun-ubun tidak cekung.
• Tidak ada penurunan urine out put ( 1-3 cc/kg/BB/jam).
• Penurunan BB dalam batas normal.
• Tidak ada perubahan kadar elektrolit tubuh.

Intervensi :
Catat jumlah dan kualitas feces, pantau turgor kulit dan intake output, beri air diantara menyusui atau pemberian susu botol.

2. Gangguan suhu tubuh sehubungan dengan efek fototherapi.
Tujuan : Kestabilan suhu tubuh dapat dipertahankan.
Kriteria :
• Suhu tubuh normal : 36,4 C - 37,2 C
Intervensi : Beri suhu lingkungan yang netral, pertahankan suhu tubuh normal untuk menghindari stress panas dan dingin. Cek tanda-tanda vital tiap 2-4 jam.

3. Gangguan integritas kulit sehubungan dengan hiperbilirubinemia dan diare.
Tujuan : Agar neonatus dapat mempertahankan keutuhan kulit.
Kriteria :
• Tidak terjadi iritasi pada kulit genital
• Tidak terjadi ruam pada kulit
• Kulit tidak terlihat kuning ( < 6mg% ) Intervensi : Catat warna kulit tiap 8 jam , pantau nilai bilirubin direk dan indirek, rubah posisi 2 jam sekali, pantau kondisi kulit dan masase daerah yang menonjol setiap merubah posisi ,jaga kebersihan dan kelembaban kulit. 4. Gangguan parenting sehubungan dengan pemisahan. Tujuan : Orang tua dan neonatus menunjukan tingkah laku “Attachment”, orang tua dapat mengekspresikan ketidak mengertian proses bonding. Kriteria : Interaksi ibu bayi adekuat : • Ibu menyusui bayi. • Ibu mengekspresikan perasaannya dengan ucapan/sentuhan. Intervensi : Bawa bayi ke ibu untuk di susui buka penutup mata saat di susui, anjurkan orang tua untuk mengajak bicara, libatkan orang tua dalam perawatan jika mungkin, dorong orang tua untuk mengekpresikan perasaannya. 5. Kecemasan meningkat sehubungan dengan terapi yang diberikan pada bayi. Tujuan : Orang tua mengerti tentang perawatan dapat mengidentifikasi gejala-gejala untuk menyampaikannya pada tim ksehatan. Kriteria : • Keluarga mengerti tentang perjalanan penyakit dan maksud dari therapi. • Memberikan respon yang kooperatif. • Keluarga tampak tenang. Intervensi : Kaji pengetahuan keluarga beri pendidikan kesehatan tentang penyebab dari kuning: tanda-tandanya, pentingnya perawatan dan pengobatan, penjelasan tentang pelayanan kesehatan yang harus dihubungi, beri pendidikan keshatan tentang perawatan bayi dirumah. 6. Potensial trauma sehubungan dengan fototerapi Tujuan : Bayi akan berkembang tanpa disertai tanda-tanda gangguan akibat dari fototerapi Kriteria : Tidak terjadi iritasi mata : • Kulit tidak melepuh, • Tidak mengalami perubahan warna (kemerahan) Intervensi : Tempatkan neonatus pada jarak 45 cm dari sumber cahaya : biarkan neonatus dalam keadaan telanjang kecuali mata , daerah bokong,dan alat genetalia ditutup dengan kain yang dapat memantulkan cahaya : usahakan agar penutup mata tidak menutupi hidung-bibir ; matikan lampu,buka tutup mata tiap 8 jam untuk melihat warna sklera; buka penutup mata setiap akan diberi susu,ajak bicara dan beri sentuhan selama perawatan; anjurkan orang tua untuk mengunjungi dan berpartisipasi selama perawatan. 7. Potensial injuri neurologi sehubungan dengan kadar bilirubin tak terkonjugasi yang tinggi Tujuan: Tidak terjadi gangguan neurologis Kriteria : Kadar bilirubin indirek dibawah 15 mg % ( Sarwono ) • Tidak terdapat tanda-tanda kern -ikterus : • Kejang,hypotonia,letargy,gangguan pendengaran,tidak mau minum,muntah-muntah,sianosis,opistotonus Intervensi : observasi dan laporkan tanda-tanda kern ikterus, Cek kadar bilirubun indirek setiap 24 jam , Cek kadar albumin sesuai kebutuhan Susui bayi sedini mungkin 8. Potensial trauma sehubungan dengan transfusi tukar Tujuan : Transfusi tukar dapat dilaksanakan tanpa komplikasi Kriteria: Tidak ada tanda reaksi dari transfusi : nadi lemah dan cepat,menggigil,pernafasan cepat dan dangkal, kulit kemerahan. Intervensi ; Catat kodisi umbilical neonatus jika vena umbilical yang digunakan ; basahi umbilical dengan NaCl selama 30 menit sebelum melakukan tindakan, pertahankan suhu tubuh neonatus selama dan sesudah tindakan;catat jenis darah ibu dan neonarus serta rhesus yang akan di transfusikan; yakinkan bahwa darah bahwa darah yang akan dipakai transfusi merupakan darah segar; pantau nadi, tekanan darah suhu tubuh dan pernafasan sebelum, selama dan sesudah transfusi;siapkan suction bila diperlukan ; catat jumlah darah yang keluar dan yang masuk, monitor adanya gangguan keseimbangan elektrolit seperti kejang,apnoe, bradicardi. 9. Potensial gangguan proses keluarga sehubungan dengan kondisi bayi yang memungkinkan timbulnya respon fisiologis yang merugikan. Tujuan : Keluarga dapat menerima kondisi bayi, mengerti tentang therapi yang diberikan dan prognosis penyakitnya. Intervensi : Hentikan fototherapi selama keluarga berkunjung, jelaskan dengan bijaksana tentang patologi terjadinya joundice, yakinkan bahwa pigmentasi akan kembali normal setelah keadaan bayi baik, jelaskan pentingnya pemberian ASI untuk mencegah joundice yang berkelanjutan. Discharge Planing. Pertumbuhan dan perkembangan serta perubahan kebutuhan bayi dengan hiperbilirubin (seperti rangsangan, latihan, dan kontak sosial) selalu menjadi tanggung jawab orang tua dalam memenuhinya dengan mengikuti aturan dan gambaran yang diberikan selama perawatan di Rumah Sakit dan perawatan lanjutan dirumah. Faktor yang harus disampaikan agar ibu dapat melakukan tindakan yang terbaik dalam perawatan bayi hiperbilirubinimea (warley &Wong, 1994): 1. Anjurkan ibu mengungkapkan/melaporkan bila bayi mengalami gangguan-gangguan kesadaran seperti : kejang-kejang, gelisah, apatis, nafsu menyusui menurun. 2. Anjurkan ibu untuk menggunakan alat pompa susu selama beberapa hari untuk mempertahankan kelancaran air susu. 3. Memberikan penjelasan tentang prosedur fototherapi dan tranfusi pengganti untuk menurunkan kadar bilirubin bayi. 4. Menasehatkan pada ibu untuk mempertimbangkan pemberhentian ASI dalam hal mencegah peningkatan bilirubin. 5. Mengajarkan tentang perawatan kulit : • Memandikan dengan sabun yang lembut dan air hangat. • Siapkan alat untuk membersihkan mata, mulut, daerah perineal dan daerah sekitar kulit yang rusak. • Gunakan pelembab kulit setelah dibersihkan untuk mempertahankan kelembaban kulit. • Hindari pakaian bayi yang menggunakan perekat di kulit. • Hindari penggunaan bedak pada lipatan paha dan tubuh karena dapat mengakibatkan lecet karena gesekan • Melihat faktor resiko yang dapat menyebabkan kerusakan kulit seperti penekanan yang lama, garukan . • Bebaskan kulit dari alat tenun yang basah seperti: popok yang basah karena bab dan bak. • Melakukan pengkajian yang ketat tentang status gizi bayi seperti : turgor kulit, capilari reffil. BAB III TINAJUAN KASUS 1. Pengkajian A. Identitas 1. Nama Klien : By. Ny. X 2. Umur : 3 hari 3. Jenis Kelamin : Laki-laki 4. Anak ke : 1 (satu) 5. Diagnosa Medis : Hiperbilirubinemia 6. Tanggal Lahir Bayi : 19 - 10 - 1996, Jam : 22.20 WIB. 7. Apgar 1 menit : 9 dan 5 menit : 9. 8. Berat badan lahir : 2750 gram, Berat badan sekarang : 2550 gram. 9. Panjang badan : 47 cm, Lingkar kepala : 33 cm, lingkar dada : 36 cm. 10. Golongan Darah : B (+) B. Riwayat Orang Tua Orang tua (ibu) tidak pernah menderita penyakit yang berat, golongan darah B, Rh (+). ASI keluar hari ketiga, menyusui mulai segera setelah lahir. C.Ringkasan riwayat kehamilan dan persalinan Masalah-masalah kehamilan : tidak ada Persalinan Kala I : 10 jam 10 menit Kala II : 10 menit Pecah ketuban : 1 jam 20 menit Jenis Persalinan : pervaginam Obat-obat yang diberikan : Citosinon 5 unit IM. D. Pengkajian Keluarga Adaptasi Psikologi Ibu Perasaan ibu setelah bayi lahir : merasa senang dan mulai tercipta hubungan yang baru, tetapi bayi harus dipisah karena mengalami hiperbilirubinemia. Adanya ikatan kasih : terjadi pada saat baru lahir. Tanggapan terhadap penyakit anak : Ibu menanyakan penyebab penyakit dan pengobatan. Ibu tampak cemas dengan keadaan anaknya Adaptasi psikologi ayah Respon ayah setelah bayi lahir: merasa bahagia dapat melahirkan dengan selamat. Keterlibatan dalam persalinan : mengantar, menunggu sampai bayi lahir. Tanggapan tentang penyakit anak : ayah merasa cemas terhadap keadaan anaknya Adaptasi psikologi keluarga Menimbulkan perubahan : ya, terutama perubahan peran karena bertambahnya anggota keluarga. Apakah ada anggota keluarga yang terlibat dalam perawatan bayi : semua anggota keluarga terlibat dalam merawat bayinya. Tanggapan terhadap penyakitnya : tidak tahu-menahu dan belum mempunyai pengalaman dalam riwayat keluarga belum pernah terjadi penyakit tersebut. D. Pemeriksaan Fisik Kepala : Molding, Caput Sucsadenium, Cephal hematom : tidak ada. Ubun-ubun besar : ada, Bentuk : Jajaran genjang datar, Ubun-ubun kecil : ada, Bentuk : segitiga datar. Sutura : ada. Mata, Posisi : simetris, jarak : + 3 cm, Kotoran di mata sebelah kiri : ada, perdarahan : tidak ada. Telinga : simetris/ datar dengan kepala, perdarahan : tidak ada, Lubang : ada. Mulut : simetris, Palatum mol/durum : ada, Gigi : tidak ada., mukosa kering Hidung : lubang hidung ada, keluaran : tidak ada , pernafasan cuping hidung : tidak ada. Pergerakan leher : positif, tanda lahir : tidak ada. Tubuh : Warna kulit : kuning pada seluruh tubuh, Pergerakan : aktif. Lanugo : ada pada punggung. Vernix : tidak ada. Pengeluaran : mekonium. Keadaan kulit : pada kedua pergelangan kaki dan tangan, serta di tubuh tampak terkelupas, turgor jelek, kelembaban kurang (kering), Dada : simetris, retraksi, ngorok dan see saw : tidak ada., respirasi : 40x/menit Perut : lembek, Bising usus : 9x/mt. Tungkai : Jari tangan : Kanan : jumlah 5 , Kiri : jumlah 5 Jari kaki : Kanan : Jumlah 5, Kiri : jumlah 5 Pergerakan : aktif Nadi branchial : teraba, 130 x/menit Nadi femoral : teraba, 130 x/menit Tremor : tidak ada Rotasi paha : normal Garis telapak tangan : jelas, telapak kaki : jelas Posisi kaki : fleksi Punggung Fleksibelitas tulang punggung : normal Simetris, pretudal dumple Lobang anus : ada Genitalia Lubang penis : normal B.a.b. : pertama : tanggal 19 Oktober 1996, jam 23.00 WIB, warna : hijau kehitaman, Dfrekuensi 5-6x/hari B.a.k : pertama : tanggal : 19 Oktober 1996,warna kuning,frekuensi 6-8x/hari Jenis makanan : ASI ditambah susu formula Refleks Mengisap : baik, rooting : baik, menggenggam : baik. Moro : baik, berjalan menapak, tonus leher : baik. Menangis : kuat Keadaan umum : agak lemah Hasil Laboratorium : Tanggal 22 Oktober 1996 • Hb : 18,2 gr. % • Bilirubin : 17,8 gr % Tanggal 23 Oktober 1996 • Bilirubin Indirek : 10,84 gr % • Bilirubin Direk : 0,99 gr % • Bilirubin total : 11, 83 gr % Terapi yang diberikan Tanggal 19 Oktober 1996 Vitamin K 1 mg peroral Tanggal 20 Oktober 1996 Vitamin K 1 mg peroral Tanggal 22 Oktober 1996 • Infus N-4 dilengan sebelah kiri, dengan tetesan microdrip 10 tetes / menit • Sinar ultra violet (jam 12.00 Wib) • Parficillin 4 x 75 mg • Luminal 2 x 5 ml • FFP 50 cc, belum diberikan, masih dalam proses untuk mendapatkannya. Nama Klien : Bangsal/Tanggal : ASUHAN KEPERAWATAN Bayi Ny. X RSB. Budi Kemuliaan Mata Ajaran : Maternitas Tanggal 22 Oktober 1996 Dx. Keperawatan Tujuan Intervensi Rasional Implementasi Evaluasi 1. Potensial kurangnya volume cairan sehu-bungan dengan tidak adekuatnya intake cairan, fototherapi dan diare. Data Obyektif : • Bayi di fototherapi.sejak tanggal 22-10-96 pk. 12.00 • Bayi diare, frekuensi bab > 6x sehari.
• Intake cairan < 60cc/3jam. Cairan tubuh neonatus adekuat • Turgor kulit baik • Intake dan output seimbang • Ubun-ubun besar tidak cekung • Mrmbran mukosa lembab • Bibir tidak kering . • Berikan Asi/Pasi segera dalam waktu 4 - 6 jam setelah pindah ke ruang post partum • Berikan Asi\Pasi setiap 3 - 4 jam dan diselingi pemberian air minum tambahan . • Berikan makanan sesuai dengan petunjuk • Berikan cairan per infus • Kaji pola menelan, bising usus, eliminasi urin, pola tidur dan iritabilitas setiap hari • Catat adanya tanda-tanda dehidrasi seperti : ubun-ubun cekung, suhu meningkat, turgor kulit jelek atau membran mukosa kering. • Pemberian makan sedini mungkin (waktu 4 - 6 jam) cenderung untuk mengurangi / menekan hasil bilirubin yang tinggi. Menstimulasi aktivitas usus dan pem-buangan pigmen mekonium yang mengandung bilirubin sehingga dapat mencegah reabsorpsi dari intestinum. • Hidrasi yang adekuat mem-permudah pengeluaran / eliminasi dan ekskresi bilirubin. Mengganti cairan yang hilang melalui feses jika difototherapi. • Meningkatkan peristaltik dan ekskresi empedu sebelum terjadi resirkulasi entero-hepatik. • Cairan intravena diberikan bila bayi mengalami dehidrasi atau jika ada komplikasi lain. • Untuk mengetahui sedini mungkin adanya tanda-tanda bahaya. Bayi mungkin mengalami pengeluaran feses yang hijau dan cair. • Untuk mengetahui tanda-tanda dehidrasi secara dini dan dapat pencegahanya terjadi-nya dehidrasi. • Menkaji pengeluaran ASI pada ibu. • Membantu ibu untuk menyususui bayi secara optimal pada saat ibu mengunjungi bayi. • Menganjurkan ibu untuk memompa ASI dan segera mengirim ke RS sesuai dengan cara penyimpanan. • Memberikan tambahan makanan (pasi) 60-120cc/3-4jam. • Observasi daerah pemasangan infus dan ketepatan pemberian cairan perinfus: N4 10 tetes/mt dengan mikrodrip. • Mengkaji pola menelan, bising usus, pola eliminasi dan pola istirahat bayi. • Observasi tanda-tanda dehidrasi. S:- O: ASI ibu sudah keluar setalah hari ke dua Ibu menyusui bayi saat mengunjungi bayi secara optimal Intake dan output seimbang Tidak tampak tanda-tanda dehidrasi Turgor kulit baik Ubun-ubun besar tidak cekung Membran mukosa mulut lembab Bibir tidak kering Bising usus dalam batas normal (10x/mt) Eliminasi urin 8x/24 jam BAB 6x/24 jam) A. Potensial kekurangan cairan masih ada P. Lanjutkan rencana keperawatan 2. Potensial gangguan suhu tubuh (hipertermi) sehu-bungan dengan efek fototherapi Mendapat fototerapi sejak tanggal 22 - 10 - 96 Kesetabilan suhu tubuh bayi dapat dipertahankan. Kriteria: • Suhu kulit dan ketiak 36,5C-37C. • Suhu rektal 36,7C-37,2C. • Tidak ada tanda-tanda hipertermia • Monitor suhu axila kulit dan suhu rektal setiap 30-60 menit selama penyinaran. • Pertahankan suhu Box dengan mengatur fentilasi /pintu box perta-hankan suhu 37C • Observasi tanda-tanda vital, catat adanya : tachipnoe. • Catat adanya tanda-tanda stress: gelisah, kulit kering dan warna kemerahan • Pertahankan modalitas foto-therapi • Catat adanya tanda-tanda dehidrasi seperti : ubun-ubun cekung, suhu meningkat, turgor kulit jelek atau membran mukosa kering. • Metabolisme meningkat bila suhu meningkat. • Mencegah ketidak seimbang-an panas secara bertahap pada bayi. • Respon adanya peningkatan metabolisme menyebabkan peningkatan kebutuhan O2 (Asidosis Respiratorik) • Hipertermi akan mempenga-ruhi sistim sirkulasi sehingga terjadi fasodilatasi untuk mengeluarkan keringat dalam mempertahankan suhu tubuh • Modalitas pemngobatan ter-gantung pada tingkat kadar bilirubin, waktu serangan dan adanya penyakit lain • Suhu axila lebih dari 37,5C dianggap hipertermia dan dianggap pengeluaran panas yang berlebihan pada bayi • Mengukur suhu aksila setiap 30-60 menit • Mengatur ventilasi ruangan • Mengkaji tanda-tanda vital • Mengkaji tanda-tanda stres • Mengobservasi ketepatan pemberian fototerapi • Mengkaji adanya tanda-tanda dehidrasi S. - O. • Suhu tubuh, 36,5 C • Suhu lingjkungan 25 C • Kulit kering • Bayi gelisah • Pernafasan 40 x/mt A. Masalah teratasi se-bagian P. Intervensi diperta-hankan • 3. Gangguan Integritas kulit sehubungan dengan hiperbilirubinimea dan diare. Data Obyektif : • Kulit pada kedua per- gelangan tangan serta tubuh terkelupas. • Warna kulit bayi kuning (Ikterus) • bab. 6-8 x/hari Keutuhan kulit bayi dapat dipertahankan. kreteria: • kulit utuh • tidak ada perubahan warna (kemerahan) • tidak ada ikterus • Kaji tanda-tanda ikterus / jaundice selengkap-lengkap-nya dgn menggunakan sinar matahari bila mungkin., observasi skelra, observasi warna kulit, dan kaji dengan menekan kulit pada bagian yang keras, cek mukosa mulut, bagian belakang dari palatum keras dan kantung kojungtiva (untuk bayi yang berkulit hitam). • Bersihkan dan mengganti popok setiap b.a.b. • Jaundice merupakan tanda-tanda awal adanya hiper-bilirubinemia. Karena lampu buatan akan mengaburkan pengkajian. Jaundice perta-ma kali terlihat pada sklera yang menguning. Dengan menekan akan muncul warna kuning setelah tekanan dilepaskan. Pigmen pada • orang kulit hitam normal akan terlihat kuning. • Seringnya b.a.b. merupakan faktor resiko kerusakan kulit. • Mengkaji tanda ikterus pada : - Sklera mulut dan kulit S. - O. Sklera dan kulit kuning 4. Gangguan parenting sehubungan dengan pemisahan Orang tua dan bayi menunjukkan tingkah laku Attachment, orang tua dapat mengekspresikan proses Bonding. • Buka tutup mata bayi saat disusui. • Anjurkan orangtua untuk mengajak bicara anaknya. • Libatkan orang tua dalam perawatan bila memungkin-kan. • Anjurkan orang tua meng-ekspresikan perasaannya • Mengoptimalisasikan intraksi ibu-bayi • Membuka tutup mata bayi saat menyusui • Menganjutkan orang tua untuk mengajak bicara pada bayi • Melibatkan orang tuauntuk merawat bayi • Menganjutkan orang tua mengekspresikan perrasaannya S.- Ortu merasa lega setelah melihat kondisi anaknya O. Ortu berpartisipasi dalam perawatan bayi A. Gangguan Parenting teratasi sebagian P. Memberikan Penkes tentang perawatan bayi dirumah 5. Kecemasan meningkat sehubungan dengan ketidaktahuan tentang perjalanan penyakit dan therapi yang diberikan pada bayi. Data Subyektif: • Klien/keluarga selalu menanyakan tindakan yang akan diberikan. Data Obyektif : • Program therapi yang harus dilakukan • Ibu tampak takut saat melihat keadaan bayinya. Orang tua menegerti tentang perawatan, keluarga dapat ber- partisipasi meng- identifikasi gejala-gejala untuk men- yampaikan pada tim kesehatan • Kaji pengetahuan keluarga tentang perawatan bayi ikterus • Berikan penjelasan tentang: Penyebab ikterus, proses terapi, dan perawatanya. • Berikan penjelasan setiap akan melakukan tindakan . • Diskusikan tentang keadaan bayi dan program-program yang akan dilakukan selama di rumah sakit • Ciptakan hubungan yang akrab dengan keluarga selama melakukan perawatan • Memberikan bahan masukan bagi perawat sebelum me- lakukan pendidikan kesehat- an kepada keluarga • Dengan mengerti penyebab ikterus, program terapi yang diberikan keluarga dapat menerima segala tindakan yang diberikan kepada bayinya. • Informasi yang jelas sangat penting dalam membantu mengurangi kecemasan keluarga • Komunikasi secara terbuka dalam memecahkan satu per-masalahan dapat mengurangi kecemasan keluarga. • Hubungan yang akrab dapat meningkatkan partisipasi keluarga dalam merawat bayi ikterus • Melakukan pengkajian tentang pengetahuan keluarga dimana keluarga belum mengerti sama sekali tentang bayi ikterus dan cara merawatnya. • Memberikan penjelasan tentang penyebab bayi ikterus, tindakan keparawatan yang diberikan selama di rumah sakit dan di rumah, jika pulang. Seperti : cara mempertahankan suhu tubuh normal, memberikan ASI, memandikan bayi, merawat tali pusat, mengganti pakaian, dan pemberian imunisasi. • Memberikan penjelasan sebelum melakukan tindakan, seperti; memasang infus, memberikan fototerapi dan obat-obat injeksi atau obat lainnya. • Melakukan diskusi bersama keluarga tentang prinsip-prinsip yang bisa dilakukan oleh keluarga dalam merawat bayi ikterus selama di rumah sakit dan di rumah • Mengajak keluarga untuk bersama-sama merawat bayinya, seperti S. Keluarga mengatakan : musah-mudahan cepat sembuh dan cepat pulang O. Keluarga tampak lebih tenang Keluarga kurang banyak bertanya A> Pengetahuan keluarga meningkat

P. Intervensi diteruskan







6. Potensial gannguan proses respon keluarga keluarga sehubungan dengan yang kurang terhadap kondisi bayi. Keluarga dapat menerima kondisi bayi
Mengerti tentang terapi yang diberikan dan prognosisnya

• Hentikan Fototerapi selama keluarga berkunjung
• Jelaskan dengan bijaksana tentang fisiologi terjadinya joundice
• Yakinkan bahwa pigmentasi akan kembali normal
• Jelaskan pentingnya pemberian ASI untuk mencegah joundice yang berke;lanjutan
• Untuk meningkatkan interaksi keluarga-bayi
• Untuk mencegah kecemasan
orang tua yang berlehihan
dan overprotektib
• Meningkatkan penerimaan kondisi bayi dan mengurangi kecemasan
• Untuk memotivasi pemberian ASI dan mencegah penghentian ASI sejak dini
• Menghentikan fototerapi saat ibu berkunjung dan menyusui bayi
• Menjelaskan pada keluarga tentang kondisi bayi, penyebab dan prognosisnya
• Menjelaskan bahwa keadaan kulit bayi akan kembali normal setelah keadaan membaik
• Menjelaskan tentang pentingnya ASI untuk mencegah joundice yang berkepanjangan
S. Keluarga menyatakan mengerti tentang kondisi bayinya dan pengobatan yang dilakukan.
Ibu mengerti tentang pentingnya pemberian ASI

O. Interaksi keluarga-bayi nampak optimal saat kunjungan

Ibu menyusui bayi dan mengeksplorasi perasaannya melalui sentuhan dan komunikasi dengan bayi

A. Masalah teratasi sebagian

P. Lanjutkan intervensi



Nama Klien :

Bangsal/Tanggal : ASUHAN KEPERAWATAN

Mata Ajaran : Maternitas


No Diagnosa Keperawatan Tujuan Intervensi Rasionalisasi
1. •



Kaji tanda-tanda ikterus / jaundice selengkap-lengkapnya dengan meng-gunakan sinar matahari bila mungkin., observasi skelra, observasi warna kulit, dan kaji dengan menekan kulit pada bagian yang keras, cek mukosa mulut, bagian belakang dari palatum keras dan kantung kojungtiva (untuk bayi yang berkulit hitam)

Jaga bayi untuk tetap hangat.


Jaundice merupakan tanda-tanda awal adanya hiperbilirubinemia. Karena lampu buatan akan mengaburkan pengkajian.
Jaundice pertama kali terlihat pada sklera yang menguning. Dengan menekan akan muncul warna kuning setelah tekanan dilepaskan. Pigmen pada orang kulit hitam normal akan terlihat kuning.

Menjaga agar tidak terjadi hipotermia.
2. Potensial injuri sehubungan dengan kojungtivitis, hipotermia, dan dehidrasi karena penggunaan fototerapi.
Data Obyektif :
• Mendapat fototerapi
• Tidak menggunakan pakaian dengan mata dan genitalia tidak tertutup selama fototerapi.
Tidak mengalami kerusakan mata, dehidrasi dan hipertermi selama fototerapi. Mempertahankan modalitas pengobatan



Berikan fototerapi



Tutup mata selama penyinaran


Pindahkan bayi dari cahaya fototerapi dan lepas penutup mata selama pemberian makan.

Kaji mata terhadap konjungtivitis dan abrasi kornea

Gunakan penutup yang minimal

Rubah posisi tiap 2 jam


Monitor suhu kulit dan suhu inti tiap 1 jam sampai suhu tubuh stabil

Berikan ekstra cairan

Kaji tanda-tanda dehidrasi, yakni : turgor kulit jelek, depresi fontanela, mata cekung, penurunan berat badan, perubahan elektrolit, penurunan output urin.

Observasi adanya kemerahan pada kulit




Cek suhu inkubator


Matikan waktu saat mengambil darah untuk pemeriksaan bilirubin. Modalitas pemngobatan tergantung pada tingkat kadar bilirubin, waktu serangan dan adanya penyakit lain

Menurunkan serum bilirubin dengan memperlancar ekskresi bilirubin tak terkojugasi

Melindungi retina dari kerusakan akibat cahaya dengan intensitas tinggi

Memungkinkan stimulasi visual



Mungkin disebabkan oleh iritasi dari penutup mata

Memungkinkan penyinaran yang merata

Mengefektifkan penyinaran dan mencegah penekanan pada satu tempat

Hipotermi dan hipertermi merupakan komplikasi yang umum dari fototerapi

Untuk menjamin hidrasi yang adekuat.

Fototerapi dapat menyebabkan peningkatan IWL. Bayi kadar bilirubin yang tinggi dapat menjadi letargi dan sulit untuk makan.

Kemerahan dihubungkan dengan fototerapi yang meningkatkan kadar bilirubin direk atau kerusakan hati dapat hilang 2 - 4 mg/dl

Penambahan panas dari fototerapi sering meningkatkan suhu badan dan suhu cove.

Karena pemaparan darah pada fototerapi akan mempengaruhi kadar bilirubin

4. Potensial terjadinya gangguan volume cairan sehubungan dengan tidak adekuatnya intake cairan, fototherapi dan diare.
Keseimbangan cairan terpenuhi/terpelihara
• Observasi intake dan out put, turgor kulit,
• Observasi tanda-tanda vital : Nadi, Suhu , Respirasi,Kesadaran, refleks,tiap 30 - 60 menit.
• Berikan minum air diantara pemberian ASI.


4. Kecemasan orang tua sehubungan dengan punya anak yang mengalami jaundice.
Data obyektif :
• Orang tua tampak cemas

Data subyektif :
• Menanyakan tentang keadaan anak dan proses penyakit. Orang tua mendapatkan informasi mengenai proses penyakit, penyebab, dan hasi yang dicapai.
Orang tua memahami alasan untuk mengaktifkan pemberian ASI sesaat dan cara memompa susu. Berikan penjelasan mengenai :
Kondisi bayi, modalitas pengobatan, alasan mengapa ibu harus menghentikan pemberian ASI.

Jelaskan pemberian ASI dihentikan sementara :
Kaji pengetahuan ibu mengenai pemompaan ASI dan memberikan informasi serta dukungan sesuai yang dibutuhkan.

Bantu ibu dalam menyusui ulang






Berikan rangsang taktil selama memberi makan dan mengganti popok.

Melakukan sentuhan dan kontak mata ibu dan bayi selama pemberian ASI, bayi diajak bicara.

Dukung orang tua untuk masuk ke dalam ruang perawatan dalam memberi makan dan menyentuh bayi. Orang tua tidak memahami mengapa dan apa terjadi keadaan tersebut.
Pengobatan bermacam-macam ; orang tua tidak memahami pengobatan yang diberikan
ASI merupakan penyebab jaundice yang belum jelas. Kadar bilirubin serum menurun dalam waktu 48 jam setelah pemberian ASI dan dihentikan. Pendapat dari dokter, para ahli yang lain tentang hal ini masih berbeda-beda.

ASI merupakan penyebab jaundice yang belum jelas. Kadar bilirubin serum menurun dalam waktu 48 jam setelah pemberian ASI dan dihentikan. Pendapat dari dokter, para ahli yang lain tentang hal ini masih berbeda-beda.

Ibu mungkin perlu dukungan dan informasi untuk memulai kembali memberikan ASI

Neonatus perlu stimulasi taktil



Memberikan rasa nyaman dan menurunkan gangguan sensorik Adanya alat di ruang perawatan menyebabkan orang tua tidak mau atau segan untuk masuk ke dalam ruang perawatan

DAFTAR PUSTAKA


1. H. Markum : ” Ilmu Kesehatan Anak”. Buku I, Jakarta, FKUI, 1991.
2. Bobak, J. : ”Materity and Gynecologic Care”, Precenton, 1985.
3. Cloherty, P. John : ”Manual of Neonatal Care”, USA, 1981.
4. Sally B. Olds, et all : ”Maternal New Born Nursing”, Edisi ke III, USA, 1994.
5. Jack A. Pritchard dkk : ”Obstetri Williams”, Edisi XVII, Surabaya, Airlangga University Press, 1991
6. Marlene Mayers, et. al. : ”Clinical Care Planes Pediatric Nursing”, New York, Mc.Graw-Hill. Inc, 1995.
7. Mary Fran Hazinki : ”Nursing Care of Critically Ill Child”, Toronto, The Mosby Compani CV, 1984.
8. Susan R. J. et. al. : ”Child Health Nursing”, California, 1988.
9. Donna L. Wong: “Nursing Care of Infants and Children”, Edisi V, Toronto, The Mosby Compani CV, 1995
10. Prawirohadjo Sarwono : “Ilmu Kebidanan”, Edisi ke III, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta, 1992

Penggolongan Hiperbilirubinemia berdasarkan saat terjadi Ikterus:
1. Ikterus yang timbul pada 24 jam pertama.
Penyebab Ikterus terjadi pada 24 jam pertama menurut besarnya kemungkinan dapat disusun sbb:
• Inkomptabilitas darah Rh, ABO atau golongan lain.
• Infeksi Intra Uterin (Virus, Toksoplasma, Siphilis dan kadang-kadang Bakteri)
• Kadang-kadang oleh Defisiensi Enzim G6PD.

Pemeriksaan yang perlu dilakukan:
• Kadar Bilirubin Serum berkala.
• Darah tepi lengkap.
• Golongan darah ibu dan bayi.
• Test Coombs.
• Pemeriksaan skrining defisiensi G6PD, biakan darah atau biopsi Hepar bila perlu.

2. Ikterus yang timbul 24 - 72 jam sesudah lahir.
• Biasanya Ikterus fisiologis.
• Masih ada kemungkinan inkompatibilitas darah ABO atau Rh, atau golongan lain. Hal ini diduga kalau kenaikan kadar Bilirubin cepat misalnya melebihi 5mg% per 24 jam.
• Defisiensi Enzim G6PD atau Enzim Eritrosit lain juga masih mungkin.
• Polisetimia.
• Hemolisis perdarahan tertutup ( pendarahan subaponeurosis, pendarahan Hepar, sub kapsula dll).

Bila keadaan bayi baik dan peningkatannya cepat maka pemeriksaan yang perlu dilakukan:
• Pemeriksaan darah tepi.
• Pemeriksaan darah Bilirubin berkala.
• Pemeriksaan skrining Enzim G6PD.
• Pemeriksaan lain bila perlu.

3. Ikterus yang timbul sesudah 72 jam pertama sampai akhir minggu pertama.
• Sepsis.
• Dehidrasi dan Asidosis.
• Defisiensi Enzim G6PD.
• Pengaruh obat-obat.
• Sindroma Criggler-Najjar, Sindroma Gilbert.

4. Ikterus yang timbul pada akhir minggu pertama dan selanjutnya:
• Karena ikterus obstruktif.
• Hipotiroidisme
• Breast milk Jaundice.
• Infeksi.
• Hepatitis Neonatal.
• Galaktosemia.

Pemeriksaan laboratorium yang perlu dilakukan:
• Pemeriksaan Bilirubin berkala.
• Pemeriksaan darah tepi.
• Skrining Enzim G6PD.
• Biakan darah, biopsi Hepar bila ada indikasi.

BAB IV
PEMBAHASAN

Prinsip asuhan keperawatan bayi baru lahir dengan hiperbilirubinemia yang mendapatkan fototerapi adalah pencegahan infeksi sekunder, pemenuhan cairan/nutrisi yang adekuat, pengawasan dan pengaturan suhu, perawatan kulit, penetalaksaan bonding, dan bimbingan kecemasan pada keluarga.
Asuhan keperawatan tidak hanya ditujukan pada fisik bayi saja, tetapi juga dichanrge planning klien dan keluarga yang meliputi hubungan anak dan orang tua dengan mengikutkan orang tua dalam perawatan selama di rumah sakit dan di rumah.
Pada kasus ini didapatkan enam diagnosa keperawatan yang meliputi :
1. Potensial kurangnya volume cairan sehubungan dengan tidak adekuatnya intake cairan, fototerapi dan diare.
2. Potensial gangguan suhu tubuh (hipertermi) sehubungan dengan efek fototerapi
3. Gangguan integritas kulit sehubungan dengan hiperbilirubinemia dan diare.
4. Gangguan perenting sehubungan dengan pemisahan.
5. Kecemasan meningkat sehubungan dengan ketidaktahuan tentang perjalanan penyakit dan therapi yang diberikan pada bayi.
6. Potensial gangguan respon keluarga sehubungan dengan kondisi bayi.
Pada kasus ini belum dapat melakukan evaluasi sampai pada saat klien pulang karena akan perawatan diberikan pada hari ketiga dan evaluasi dalam satu hari.
Hasil evaluasi yang didapatkan:
1. Gangguan pemenuhan cairan belum teratasi.
2. Masalah peningkatan suhu tubuh teratasi sebagian.
3. Gangguan integritas kulit belum teratasi.
4. Keluarga dapat menerima dilakukannya pemisahan.
5. Keluarga memahami tentang proses penyakit dan therapinya.
6. Keluarga sudah dapat menerima keadaan bayi dan terapi yang dilakukan untuknya.

BAB V.
PENUTUP

Asuhan keperawatan pada hiperbilirubinemia merupakan penatalaksanaan yang memerlukan perhatian khusus sesuai dengan prosedur yang berlaku, apabila penangannya tidak tepat akan menimbulkan keadaan yang lebih parah, yang dapat menimbulkan kecacatan.
Prinsip penanganan pada bayi hiperbilirubinemia dilakukan dengan mempercepat konjugasi, mempermudah konjugasi, melakukan dekompensasi bilirubin, mengeluarkan bilirubin dengan transfusi tukar. Sebagai perawat dalam memberikan asuhan keperawatan untuk mengatasi akibat dari prosedur di atas yang dialami oleh klien.
Klien Ny. X yang dirawat di ruang III A. RSB. Budi Kemuliaan dengan mendapatkan fototerapi mengalami beberapa masalah keperawatan dan memerlukan kerja sama yang baik dari tim kesehatan dengan keikutsertakan keluarga untuk mengatasi masalah tersebut dengan harapan mempercepat proses penyembuhan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar